Niat, Tata Cara, dan Doa Setelah Sholat Dhuha

Tata cara sholat dhuha sebenarnya sama seperti sholat sunnah lain pada umumnya, yaitu shalat dua rakaat dengan satu salam. Perbedaan tata cara sholat dhuha dengan shalat sunnah lainnya terletak pada bacaan niat, doa, dan waktunya.

Sholat dhuha paling sedikit dikerjakan sebanyak 2 rakaat. Namun sebagian ulama tidak membatasi. Ada yang mengatakan 12 rakaat, ada yang yang mengatakan bisa lebih banyak lagi hingga waktu dhuha habis.

Simak pembahasan lengkap tentang niat sholat dhuha, bacaan, tata cara, dan semua hal yang berkaitan dengan sholat dhuha di bawah ini.

Bagaimana Niat Sholat Dhuha?

Artisanalbistro
artisanalbistro.com

Ijma’ ulama sepakat bahwasanya tempat dari niat adalah di hati. Belum dianggap cukup apabila hanya diucapkan dengan lisan.

Melafalkannya bukanlah suatu syarat mutlak. Artinya, bacaannya tidak harus dilafalkan.

Pendapat dari madzhab Hanafi dan Maliki, tidak ada syariat melafazkan niat sebelum kedua tangan terangkat dan takbiratul ihram, terkecuali mereka yang ragu.

Keduanya menyebutkan cukup dengan membatin. Karena dianggap menyalahi keutamaan dan tidak ada contoh dari Rasulullah SAW.

Sedangkan menurut madzhab Hambali dan Syafi’i, niat yang diucap sebelum takbiratul ihram dihukumi ke dalam sunnah.

Mereka berpendapat fungsi dari mengucapkannya saat sholat dhuha sendiri adalah untuk mengingatkan hati agar khusyu’ dan lebih mantap dalam menjalankan ibadah.

Terlepas dari perbedaan tersebut, bacaan niat sholat dhuha pada umumnya adalah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah SWT.”

Tata Cara Sholat Dhuha

Muslimobsession
muslimobsession.com

Secara ringkas, berikut tata cara sholat Dhuha:

  1. Pertama Niat,
  2. kemudian takbiratul ihram, lebih baik jika diikuti dengan doa iftitah
  3. Dilanjutkan membaca al- Fatihah.
  4. Lalu membaca surat atau ayat al-Qur’an, bisa membaca asy-Syams atau yang lainnya.
  5. Ruku’, i’tidal, sujud, duduk iftirasy, bersujud lagi disertai tuma’ninah.
  6. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat ke dua,
  7. Kemudian membaca al-Fatihah, dilanjutkan surah atau ayat Al-Qur’an, bisa adh-Dhuha atau lainnya.
  8. Ruku’, i’tidal, sujud, duduk iftirasy, sujud kedua, tahiyat akhir disertai tuma’ninah,
  9. Terakhir salam.

Demikian tata cara sholat dhuha. Setiap dua rakaat salam, diulang sampai bilangan delapan atau yang dikehendaki.

Setelahnya dianjurkan untuk berdoa. Caranya, dengan duduk khusyuk dan konsentrasi lalu memperbanyak berdzikir. Setelah itu bisa dilanjutkan dengan membaca salah satu doa.

Doa setelah sholat dhuha
Doa setelah sholat dhuha

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ

Artinya, “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu.”

اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعْسِرًا (مُعَسَّرًا) فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Artinya, “Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar atau dipersulit (kudapat), mudahkanlah. Jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah dengan hak duha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”

Jumlah Rakaat Sholat Dhuha

Doaharian
doaharian.com

Para ulama sepakat bahwa jumlah minimal rakaat sholat dhuha adalah 2 rakaat. Namun para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jumlah maksimal rakaat sholat dhuha.

Mayoritas ulama khususnya dalam madzhab syafi’iy bahwa maksimal rakaat sholat dhuha adalah 8 rakaat.

Sebagian ulama seperti Imam ar-Rafi’iy (w. 623 H) dan Imam ar-Ruyani (w. 502 H) rahimahumallah mengatakan maksimal 12 rakaat.

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) seorang ulama besar madzhab Syafi’iy menyebutkan sebagai berikut:

“Sholat dhuha minimal 2 rakaat, paling banyak adalah 8 rakaat. Ini adalah pendapat mushonnif dan mayoritas ulama. Imam ar-Rafi’iy dan Imam ar-Ruyani mengatakan paling banyak 12 rakaat.”

Dalil yang dipakai mayoritas ulama adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di bawah ini:

Dari Ummu Haani’ radhiyallahu ‘anha beliau berkata: sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam pada saat pembebasan kota makkah melakukan sholat dhuha 8 rakaat, dan beliau salam setiap 2 rakaat. (HR. Abu Dawud)

Adapun dalil yang dipakai oleh Imam ar-Rafi’iy (w. 623 H) dan Imam ar-Ruyani (w. 502 H) adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di bawah ini:

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu beliau berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: jika kamu sholat dhuha 2 rakaat maka tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai, jika kamu sholat 4 rakaat maka akan dicatat sebagai muhsinin, jika kamu sholat 6 rakaat maka dicatat sebagai orang yang sering berdiri sholat, jika kamu sholat 8 rakaat maka dicatat sebagai orang yang sukses/beruntung, jika kamu sholat 10 rakaat maka dosamu tidak akan dicatat di hari itu, jika kamu sholat 12 rakaat maka Allah akan bangunkan rumah di surga bagimu. (HR. al-Baihaqi dan beliau mendhaifkannya)

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa yang paling afdhal jika ingin mengerjakan sholat dhuha dengan jumlah rakaat sedikit adalah 4 rakaat. Walaupun sebenarnya boleh hanya 2 rakaat. Namun lebih utama 4 rakaat.

Cara mengerjakannya juga sama dengan sholat lainnya. Yaitu dikerjakan dengan 2 rakaat salam 2 rakaat salam.

Waktu Pelaksanaan Sholat Dhuha

Saintif
saintif.com

Waktu pelaksanaan sholat dhuha terbentang luas mulai ketika matahari sudah terbit sempurna bulatannya sampai menjelang adzan dzuhur.

Artinya sholat dhuha boleh dikerjakan di awal waktu misalnya jam 6 pagi dengan syarat matahari sudah sempurna bulatannya.

Juga boleh dikerjakan di akhir waktu mepet dengan waktu dzuhur dengan syarat belum adzan dzuhur atau belum masuk waktu dzuhur.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal untuk mengerjakan sholat dhuha adalah sekitar jam 9 ke atas. Sebab para ulama mengatakan waktu yang afdhal itu setelah seperempat waktu siang terlewati atau ketika sinar matahari mulai menyengat.

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) seorang ulama besar madzhab Syafi’iy menyebutkan sebagai berikut:

“Waktu sholat dhuha adalah sejak ketika matahari terbit sampai dengan waktu zawal (waktu datangnya sholat dzuhur). Imam al-Mawardi mengatakan waktu yang bagus adalah ketika seperempat siang sudah berlalu.”

Waktu afdhal ini berdasarkan hadis shahih di bawah ini:

Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “sholat awwabin (dhuha) itu ketika sinar matahari sudah menyengat.” (HR. Muslim)

Bacaan Surah dalam Sholat Dhuha

Rctiplus
rctiplus.com

Imam as-Suyuti (w. 911 H) dan Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) mengatakan bahwa surah yang paling utama dibaca saat sholat dhuha adalah surah as-Syams di rakaat pertama dan surah ad-Dhuha di rakaat kedua.

Sebab kedua surah ini sesuai dengan riwayat hadis imam al-Baihaqi dan Imam al-Hakim.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu beliau berkata: Kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk sholat dhuha dengan membaca surah as-Syams dan ad-Dhuha. (HR. al-Baihaqi & al-Hakim).

Atau boleh juga di rakaat pertama membaca surat al-Kafirun dan rakaat kedua membaca surat al-Ikhlas. Dan ini adalah yang paling afdhal menurut Imam ar-Ramli.

Imam ar-Ramli rahimahullah (w. 1004 H) seorang ulama besar madzhab Syafi’iy mengatakan sebagai berikut:

“Disunnahkan saat sholat dhuha membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Kedua surat ini paling afdhal di banding surat asy-Syams dan surat ad-Dhuha walaupun ada haditsnya. Sebab surat al-Ikhlas itu setara dengan sepertiga al-Quran dan surat al-Kafirun setara dengan seperempat al-Quran.”

Hukum Sholat Dhuha

Bincangsyariah
bincangsyariah.com

Mayoritas ulama 4 mazhab mengatakan bahwa sholat dhuha hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) seorang ulama besar madzhab Syafi’iy menyebutkan sebagai berikut:

“Adapun hukum mengenai sholat dhuha menurut para ulama syafiiyah adalah sunnah mu’akkadah. Ini adalah pendapat madzhab syafi’iy dan madzhab mayoritas ulama. Dan ini juga pendapat para ulama muta’akhirin. Adapun Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa sholat dhuha itu bid’ah.”

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menjelaskan bahwa maksud dari perkataan Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud di atas ada 3 kemungkinan. Di antaranya adalah:

Pertama, bid’ah jika dilakukan terus menerus, sebab Nabi shallallahu alaihi wasallam kadang tidak melakukan sholat dhuha.

Kedua, bid’ah jika sholat dhuha dilakukan di masjid secara terang-terangan atau berjamaah. Sebab Nabi shallallahu alaihi wasallam seringnya melakukan sholat dhuha di rumah.

Ketiga, bisa jadi riwayat mengenai kesunnahan sholat dhuha tidak sampai kepada Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud di waktu itu. Wallahu a’lam.

Keutamaan Sholat Dhuha

Dalamislam
dalamislam.com

Sholat dhuha memiliki keutamaan dan faedah yang banyak.

Di antaranya senilai dengan sedekah dengan seluruh persendian, memudahkan urusan pelakunya hingga akhir siang.

Selain itu jika dilaksanakan pada awal waktu pahalanya menyamai pahala haji dan umrah.

Sholat dhuha termasuk sholat awwabin (orang-orang yang kembali kepada Allah).

Berbagai keutamaan sholat dhuha tersebut dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti akan dijelaskan berikut ini.

1. Pengganti Sedekah Seluruh Persendian

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Bagi masing-masing persendian dari anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari. Setiap tasbih (bacaan subhanallah) bernilai sebagai sedekah, setiap tahmid (bacaan alhamdulillah) bernilai sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bernilai sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bernilai sebagai sedekah. Amar ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) juga bernilai sedekah. Semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan sholat Dhuha dua raka’at” (HR. Muslim).

Persendian yang ada pada seluruh tubuh manusia sebagaimana dikatakan dalam hadis dan dibuktikan dalam ilmu anatomi adalah 360 persendian.

‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ke 360 persendian tersebut harus dikeluarkan sedekahnya setiap pagi hari.

Tentu hal itu sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Andaikan setiap ruas atau persendian sedekahnya Rp 1000 saja, maka setiap hari Rp 360.000 yang harus disedekahkan.

Namun jumlah yang banyak itu dapat digantikan dengan dua rakaat sholat dhuha, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam hadis di atas.

2. Jaminan Kecukupan Urusan di Akhir Siang

Orang yang mengawali harinya dengan sholat dhuha memperoleh jaminan dari Allah berupa kemudahan dan kecukupan urusan di akhir siang.

Sebagaimana diterangkan dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah ‘azza wa jalla berfirman;

ابْنَ آدَمَ  اِرْكَعْ لِيْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ  أَرْبَع  رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat raka’at di awal siang (waktu Dhuha), niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Tirmidzi).

Menurut At-Thibiy, makna kecukupan urusan yang dijanjikan Allah kepada orang yang sholat dhuha empat raka’at pada awal siang adalah jaminan kecukupan dalam kesibukan dan urusan serta dihindarkan dari hal-hal yang tidak disukai.

Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau sholat hingga akhir siang. Maksudnya adalah, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah pada awal awal siang, niscaya maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

3. Mendapat Pahala Haji dan Umrah

Jika dilaksanakan di awal waktu sholat dhuha berpahala senilai pahala Haji dan Umrah secara sempurna, sebagaimana dijanjikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadistnya yang diriwayatkan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من صلى صلاة الصبح في  مسجد جماعة, يثبت  فيه حتى يصلّي سبحة الضحى كان كأجر حاج ومعتمر تاماً له حجتُه وعمرتُه

Barangsiapa yang sholat subuh di Masjid secara berjama’ah kemudian dia tetap (duduk di tempat sholatnya) sampai dia mengerjakan sholat Dhuha maka baginya pahala seperti pahala orang berhaji dan umrah, yang sempurna haji dan umrahnya”. (HR. Thabrani).

Ath Thibiy berkata, “Yaitu kemudian ia melaksanakan sholat setelah matahari meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk sholat. Sholat ini disebut pula dengan sholat Isyraq. Sholat tersebut adalah waktu sholat (dhuha) di awal waktu.”

Sholat dhuha di awal waktu dikenal pula dengan nama sholat isyraq sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Waktu sholat isyraq yang merupakan awal waktu sholat dhuha adalah setelah terbit mata hari terbit dan melewati waktu terlarang untuk sholat. Yaitu setelah mata hari meninggi setinggi tombak.

4. Termasuk Sholat Awwabin (Orang yang Taat)

Awwabin jamak dari awwab yang artinya orang yang senantiasa kembali kepada Allah dengan bertaubat dan menaati-Nya. Mereka mendapatkan kabar gembira berupa janji surga dari Allah.

Allah berfirman, “Inilah (surga) yang dijanjikan kepadamu, yaitu kepada setiap orang yang senantiasa bertaubat kepada Allah (awwab) dan menjaga (hafidz) aturan-aturan Nya”. (terj. Qs. Qaf:32).

Nah, salah satu sifat awwab adalah menjaga sholat dhua sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

“Tidaklah menjaga sholat Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali kepada Allah). Inilah sholat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Awwab juga merupakan salah sifat luhur para Nabi seperti Nabi Ayyub, Daud, dan Sulaiman ‘alaihimussalam, sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an;

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). (QS. Shad:17).

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (QS. Shad: 30).

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad:44).

Ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa salah satu sifat mulia para Nabi yang dipuji oleh Allah karena mereka dikenal awwab (amat sangat taat kepada Allah).

Dan seorang hamba yang shaleh dapat memperoleh cipratan pujian tersebut dengan menjaga sholat dhuha, karena hanya para awwab[in] yang senantiasa menjaga sholat dhuha. Wallahu a’lam.

Bolehkah Sholat Dhuha Berjamaah?

Seuramoeaceh
seuramoeaceh.com

Menurut madzhab Syafi’iy sholat dhuha itu dikerjakan sendirian saja tanpa berjamaah.

Namun jika ada yang mengerjakan sholat dhuha secara berjamaah maka hukumnya tetap boleh.

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) seorang ulama besar madzhab Syafi’iy menyebutkan sebagai berikut:

“Telah disebutkan bahwa sholat sunnah itu tidak dianjurkan untuk berjamah kecuali jika sholat ied, sholat gerhana, sholat istisqa dan sholat tarawih serta witir. Adapun sholat sunnah lainnya seperti sholat rawatib, sholat dhuha dan sholat mutlaq maka tidak disunnahkan untuk berjamaah. Namun jika dikerjakan secara berjamaah maka hukumnya tetap boleh dan tidak makruh. Imam Syafi’iy rahimahullah mengatakan tidak apa apa jika sholat sunnah dilakukan secara berjamaah.”

Penutup

Allah SWT dalam beberapa ayat bersumpah dengan waktu dhuha. Dalam pembukaan surat asy-Syams, Allah SWT berfirman, ”Demi matahari dan demi waktu dhuha.” Bahkan, ada surat khusus di Al-Quran dengan nama ad-Dhuha.

Pada pembukaannya, Allah berfirman, ”Demi waktu dhuha.” Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting.

Benar, waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Di antara doa Rasulullah SAW: Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa. Artinya, ”Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi.”

Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu subuh dan dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan.

Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat sholat subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu.

Source
Ajib, Muhammad. 2020. 33 Macam Jenis Shalat Sunnah. Jakarta: Rumah Fiqih Publishingwahdah.or.idumma.idpa-bengkulukota.go.id

Haikal Muhlis

Mahasiswa aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, aktif di berbagai organisasi kampus dan komunitas pemuda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button