Sejarah Kerajaan Sriwijaya | Letak, Peninggalan, Prasasti – LENGKAP

Sejarah Kerajaan Sriwijaya – Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang berpengaruh di kepulauan Nusantara. Dalam bahasa Sangsekerta, nama Sriwijaya berasal dari kata “sri” yang berarti bercahaya, dan “wijaya” yang berarti kemenangan.

Sriwijaya Sebagai Kerajaan Nasional Pertama

Sriwijaya Sebagai Kerajaan Nasional Pertama

blackthingker.wordpress.com

Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan yang pernah besar dan jaya di Indonesia. Kerajaan ini juga disebut negara nasional pertama karena pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaannya meliputi Indonesia bagian barat, Siam bagian selatan, semenanjung Malaya, sebagian Filiphina, dan Brunai Darusalam di pulau Kalimantan.

Selain itu, berdasarkan temuan peninggalannya dapat diketahui daerah yang tunduk dengan Sriwijaya, misalnya prasasti Karang Berahi di Jambi, prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka, dan Candi Muara Takus di Riau.

Sedangkan mengenai pusat pemerintahan, G. Goedes memperkirakan Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang. Namun beberapa ahli mempunyai pendapat lain, seperti R.C. Majumdar (pulau Jawa dan selanjutnya Ligor). H.G. Quatrich Wales (Chaiya atau Perak), J.I. Moens (berawal di Kedah dan berpindah ke Muara Takus), Soekmono (Jambi), dan Boechari di Mukha Upang, Palembang.

Baca juga: Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

ririfahlen.blogspot.com

Nama Sriwijaya sudah terkenal dalam perdagangan Internasional. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai sumber yang menerangkan mengenai keberadaan Sriwijaya, di antaranya;

Menurut berita Arab

Dikabarkan bahwa pedagang Arab melakukan kegiatan perdagangan di Kerajaan Sriwijaya, bahkan di sekitar Sriwijaya ada ditemukan peninggalan yang besar kemungkinan bekas perkampungan orang Arab.

Menurut berita India

Dikabarkan bahwa dulunya kerajaan Sriwijaya pernah mengadakan hubungan kerjasama dengan beberapa kerajaan di India, seperti Colamandala dan Nalanda bahkan Kerajaan Nalanda membangun sebuah prasasti yang menceritakan mengenai Sriwijaya.

Dari berita Cina

Dikabarkan bahwa pada pedagang yang berasal dari Cina sering singgah di wilayah Kerajaan Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke India dan Arab. Berita dari Cina juga mengabarkan bahwa di abad ke-7 telah ada beberapa kerajaan yang berdiridi Sumatra, di antaranya kerajaan Tulang Bawang, di Sumatra Selatan, Melayu di Jambi, dan Sriwijaya. Keberadaan Kerajaan Sriwijaya ini dapat diperoleh informasinya, misalnya, dari cerita pendeta Budha dari Tiongkok, I-tsing.

Diceritakan bahwa I-tsing kembali ke Kerajaan Sriwijaya pada tahun 685 lalu  menetap di sana selama 4 tahun untuk tujuan menerjemahkan berbagai kitab suci Budha dari bahasa Sangsekerta ke bahasa Tionghoa. Karena pada kenyataannya dalam cerita tersebut, beliau tidak bisa menyelesaikan sendiri pekerjaan itu, oleh karena itu pada tahun 689, dia pergi ke Kanton untuk mencari pembantu dan segera kembali lagi ke Sriwijaya. Selanjutnya, baru pada tahun 696, I-tsing pulang ke Tiongkok.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

keseniankriya.blogspot.co.id

Walau letak secara pasti pusat kerajaan sulit dibuktikan, tapi kebesaran dan pengaruh Kerajaan Sriwijaya sangat nyata. Hal ini dibuktikan dari berbagai prasasti yang memuat tentang berita-berita Sriwijaya.

1. Prasasti Kedukan Bukit (605 S/683M)

Prasasti ini ditemukan di tepi sungai Talang, dekat Palembang. Isinya antara kain menerangkan seorang bernama Dapunta Hyang yang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan cara menggunakan perahu. Ia berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara sebanyak 20.000 oang.

2. Prasasti Talang Tuo (606 S/684M)

Prasasti Talang Tuo adalah salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di bagian sebelah barat kota Palembang, daerah Talang Tuo. Prasasti ini berisi 14 baris tulisan dalam bahasa Melayu kuno dan ditulis dengan huruf Pallawa. Isinya tentang pembuatan taman (kebun) Sriksetra atas perintah Punta Hyang dengan tujuan untuk kemakmuran semua makhluk. Di Samping itu, ada juga doa dan harapan yang jelas yang menunjukkan sifat agama Hindu.

3. Prasasti Telaga Batu

Di Telaga Batu, dekat Palembang ditemukan sebuah prasasti berbahasa Melayu kuno dan huruf Pallawa. Prasasti ini tidak ada angka tahunnya dan isinya tentang kutukan-kutukan yang sangat seram kepada siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada perintah-perintah raja.

4. Prasasti Kota Kapur (608 S/686 M)

Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Pulau Bangka, isinya berupa doa kepada para dewa untuk menjaga kesatuan Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.

5. Prasasti Karang Berahi (608 S/686 M)

Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Isi prasasti ini sama dengan isi Prasasti Kota Kapur.

Beberapa prasasti yang lain, yakni Prasasti Ligor dan prasasti Nalanda. Prasasti Ligor berangka tahun 775 dan ditemukan di Ligor, Semenanjung Melayu. Sementara Prasasti Nalanda ditemukan di Nalanda, India Timur.

Letak Kerajaan Sriwijaya dan Pemerintahannya

Letak Kerajaan Sriwijaya dan Pemerintahannya

indonesiatamasya.blogspot.co.id

Mengapa Sriwijaya cepat berkembang menjadi kerajaan yang kuat dan besar terutama dalam bidang maritim? bagaimana sistem pemerintahan yang diterapkan oleh kerajaan Sriwijaya? Mari kita bahas satu demi satu pertanyaan di atas!

  1. Secara geografis, Pelembang merupakan daerah yang strategis, terutama keberadaan sungai Musi yang menghubungkan dengan daerah pedalaman Pulau Sumatra. Pulau-pulau yang terletak di depan muara sungai Musi  sangat berguna sebagai pelindung pelabuhan sehingga keadaan ini sangat tepat untuk kegiatan pemerintahan dan pertahanan.
  2. Pantai timur Sumatra merupakan persimpangan lalu lintas pelayaran internasional hingga sekarang.
  3. Runtuhnya kerajaan Funan di Vietnam akibat serangan Kamboja. Hal ini memberi kesempatan Sriwijaya berkembang cepat sebagai negara Maritim.
  4. Sriwijaya memiliki berbagai kemampuan, terutama untuk kegiatan pelayaran dan perdagangan. Misalnya beberapa sungai yang besar, perairan laut yang cukup tenang, dan penduduk yang berbakat seperti pelaut ulung.

Dari prasasti Kota Kapur, diketahui bahwa Kerajaan Sriwijaya diceritakan pernah berusaha menginvasi daerah Bhumi Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya. Wilayah yang dimaksud dengan Bhumi Jawa adalah Jawa, khususnya Jawa Barat. Berita Cina juga menerangkan adanya serangan ke kerajaan Kaling sehingga mendesak kerajaan Kaling pindah ke sebelah timur. Jika dihubungkan dengan kedua cerita tersebut, diduga yang melakukan serangan adalah Sriwijaya yang ingin menguasai Jawa Tengah karena pantai utara Jawa merupakan jalur perdagangan yang penting.

Raja yang terkenal dari Kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa. Ia memerintah sekitar abad ke-9. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya berkembang pesat menjadi kerajaan yang besar dan menjadi pusat agama Budha di Asia Tenggara. Kerajaan ini menjalin hubungan dekat dengan kerajaan-kerajaan di India seperti Nalanda dan Cola. Balaputradewa adalah keturunan dari dinasti Syailendra, yakni putra dari Raja Samaratungga dengan Dewi Tara dari Sriwijaya. Keterangan tersebut diketahui dari Prasasti Nalanda.

Pada saat Raja Sri Sudamaniwarmadewa memerintah, Sriwijaya pernah mendapat serangan dari raja Darmawangsa dari Jawa Timur. Setelah penyerangan tersebut, Sri Sudaniwarmadewa digantikan oleh putranya yang bernama Marawijayottunggawarman.

Untuk mengendalikan daerah kekuasaannya yang luas dan berjauhan, pemerintah Kerajaan Sriwijaya memercayakan kepengurusan setiap daerah kepada seorang rakryan (wakil raja di daerah). Dalam hal ini Sriwijaya sudah mengenal struktur pemerintahan yang sangat bagus.

Perkembangan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

Perkembangan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

antoksoesanto.blogspot.co.id

Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang mengandalkan perekonomiannya pada kegiatan perdagangan dan hasil-hasil laut. Letak geografis dan keadaan Sriwijaya yang strategis mendukung perdagangan menjadi berkembang pesat. Tampilnya Sriwijaya sebagai pusat perdagangan, memberikan kemakmuran bagi rakyat dan negara Sriwijaya.

Kapal-kapal yang singgah dan melakukan bongkar muat, harus membayar pajak harus membayar pajak sehingga mendatangkan keuntungan. Dalam kegiatan perdagangan, Sriwijaya mengekspor gading, kulit, dan beberapa jenis binatang liar. Sedangkan barang inpornya antara lain beras, rempah-rempah, kayu manis, kemenyang, emas, gading, dan binatang.

Kehidupan Beragama Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan Beragama Kerajaan Sriwijaya

salsaistimelining.weebly.com

Sriwijaya merupakan pusat studi agama Budha Mahayana di seluruh wilayah Asia Tenggara. Menurut I-tsing, di Sriwijaya tinggal ribuan pendeta dan pelajar (mahasiswa) agama Budha. Salah seorang pendeta yang terkenal adalah Sakyakirti. Banyak mahasiswa asing yang akan belajar agama Budha di Nalanda, India datang ke Sriwijaya terlebih dahulu untuk belajar bahsa Sangsekerta. Bahkan, antara tahun 1011 – 1023 datang seorang pendeta agama Budha dari Tibet bernama Atisa untuk memperdalam pengetahuan agama Budha.

Di Nagipattana, India bagian selatan, Sriwijaya telah membangun wihara pada tahun 1006, sebagai tempat suci agama Budha. Hubungan Sriwijaya dengan India Selatan waktu itu sangat erat. Bangunan lain yang sangat penting adalah Biaro Bahal  di Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Dalam kaitannya dengan perkembangan agama dan kebudayaan Budha, di Sriwijaya ditemukan beberapa peninggalan. Misalnya, Candi Muara Takus yang ditemukan dekat Sungai Kampar di daerah Riau dan arca Budha Budha di daerah Bukit Siguntang.

Kebudayaan Kerajaan Sriwijaya

Kebudayaan Kerajaan Sriwijaya

satujam.com

Ditemukan prasasti Kudukan Bukit , Prasasti Talang Tuo, dan Prasasti Telaga Batu membuktikan bahwa Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya memiliki peradaban yang Maju. Penggalian arkeologis banyak menemukan keramik dan tembikar, ini membuktikan bahwa di Palembang terdapat pemukiman kuno.

Ditemukan pula kolam dan kanal berbentuk teratur, ini semakin menguatkan dugaan bahwa Sriwijaya telah mencapai kebudayaan yang tinggi.

Faktor Penyebab Kemunduran Kerajaan Sriwijaya

Kemunduran Kerajaan Sriwijaya

hidayatdesu.wordpress.com

Beberapa faktor penyebab mundurnya Kerajaan Sriwijaya di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Faktor geografis, berupa perubahan letak Kerajaan Sriwijaya. Perubahan yang dimaksud adalah lumpur Sungai Musi yang mengendap menyebabkan pusat Kerajaan Sriwijaya tidak lagi diminati lagi oleh pedagang internasional.
  2. Lemahnya kontrol pemerintahan pusat sehingga banyak daerah yang melepaskan diri.
  3. Berkembangnya kekuatan politik di Jawa dan India. Sriwijaya mendapat serangan dari raja Rajendracola dari Colamandala tahun 1017 dan 1025. Serangan itu diulangi lagi pada tahun 1025, mengakibatkan Raja Sriwijaya yang memerintah saat itu, Sri Sanggramawijayattungawarman ditangkap oleh pihak kerajaan Colamandala. Tahun 1275, Raja Kertanegara dari Singosari melakukan ekspedisi Pamalayu. Hal itu juga menjadi faktor penyebab lepasnya daerah Melayu dari kekuasaan Sriwijaya. Akhir dari kerajaan Sriwijaya terjadi saat armada laut Majapahit menyerang Sriwijaya tahun 1377.

Lihat juga video tentang Kerajaan Sriwijaya di bawah ini.


Sumber: 

  • Sardiman. 2008. Sejarah 2 SMA Kelas XI Program Ilmu Sosial. Jakarta: Penerbit Yudhistira
  • Kingking, Ignaz. Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI IPS. Penerbit Grasindo

Demikianlah uraian mengenai sejarah kerajaan Sriwijaya, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita.