Tameng Pelindung

“Di kampus kamu mau masuk organisasi apa?”, Tanyaku pada seorang mahasiswa baru yang kuliah tak jauh dari rumah.

“Pengen masuk itu yang tinju-tinju kak, maksud saya silat , hehe”…

Aku bisa tangkap kenapa ia pengen masuk organisasi gitu, mungkin saja untuk bisa membela, mempertahankan, atau melindungi diri dari gangguan orang jahil yang tak disangka-sangka bisa muncul kapan saja.

Aku sih, setuju-setuju aja, bagus banget tuh kita belajar silat, selain sebagai modal dalam pertahanan diri, itung-itung juga sebagai ajang olahraga. Aku pun pernah ikut bergabung di perguruan silat kampus, namanya Perisai Badar, pokoknya keren banget deh.

Banyak jurus yang aku dapatkan hasil latihan dari perguruan silat itu. Tapi sekarang jurus udah banyak yang hilang alias lupa, yah karena udah jarang merojaah, terlebih aku udah keluar dari perguruan silat itu ,padahal udah naik tingkat dua alias sabuk orange, hahaha.

Maksudnya gini, saranku alangkah baiknya kalo kamu bergabung ke organisasi  yang punya visi misi perbaikan diri pribadi dan orang lain. Banyak banget tuh organisasi-organisasi kayak gituan bertebaran di kampus.

Ada LDK (Lembaga Dakwah Kampus), LDF ( Lembaga Dakwah Fakultas), MPM (Mahasiswa Pencinta Mushollah), ada juga tuh khusus ikhwah kayak  HILMI (Himpunan Pelajar Muslim Indonesia dan LIDMI (Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia). Khusus untuk akhwat ada  FSRJ (Forum Studi Raudhatul Jannah), IPMI (Ikatan Pelajar Muslimah Indonesia) dan lain sebagainya yang erat kaitannya dengan dakwah.

Raga dan tubuh ini sangat penting untuk dirawat dan dijaga dari berbagai jenis gangguan, baik itu gangguan penyakit maupun gangguan fisik dari orang-orang yang memiliki niat jahat kepada kita. Dan aku sangat setuju kalo kamu masuk silat niatnya untuk itu. Tapi ada satu hal yang lebih penting lagi untuk dijaga, yaitu  iman dan hidayah.

Iman dan hidayah adalah dua kenikmatan yang sangat berharga namun sangat sulit untuk dijaga. Bagi orang-orang yang berstatus hijrah,  untuk mendapatkan nikmatnya hidayah adalah sesuatu yang susah, butuh perjuangan, dan mempertahankannya jauh lebih susah dan butuh pengorbanan.

Nah agar hidayah ini tetap bertahan dalam diri dan tidak mudah terpengaruh dari bahaya fitnah syahwat dan syubhat, kita butuh tameng pelindung. Diantaranya adalah berteman dan berkumpul dengan orang saleh.

Gimana caranya?  Yah caranya dengan ikut berkecimpung  dalam suatu komunitas atau perkumpulan orang saleh serta  aktif di dalamnya, itu.

Kenapa aku katakan demikian? Karena sudah begitu banyak teman –teman, yang kusaksikan dengan mata kepala sendiri yang dulunya ikut membersamai dalam perjuangan mengarungi liku-liku hijrah sekarang berbalik ke belakang alias futur kembali ke zaman jahiliyah, tak lain dan tak bukan sebagian besar adalah pengaruh teman lingkungan dimana ia tinggal.

Nah, berikut aku mau cerita sedikit dua pengalaman mengenai pentingnya berteman dan berkumpul dengan orang-orang shaleh.

 

Sebut saja namanya Tommi, ia adalah salah satu siswa baru dan sekelas denganku di SMANSA. Awal melihatnya, aku agak takut dan sering menghindar. Dari cerita teman-teman dia adalah salah satu anggota geng motor yang sering kali balap liar dan buat resah masyarakat yang tinggal di sekitar Lapangan Nasional Sinjai.

Kelihatan sekali dari tampang dan cara ia berpakain, memang gaya preman abis. Pernah ketahuan bawa benda tajam yang sering ia gunakan tatkala bentrok dengan anggota geng lain pada saat  guru BK razia  di kelas. Melihatnya demikian aku semakin takut tuk mendekat dan mengeluhkan dalam hati, “kenapa ia mesti sekelas denganku ya Allah?”

Berjalan waktu hingga kami naik ke kelas dua, ketika jam istirahat berlangsung aku ajak teman-teman yang ada di kelas untuk nonton video-video pendek motivasi dan renungan yang ada di leptopku, itung-itung merefresh otak setelah dari tadi belajar dan menguras banyak pikiran.

Ternyata si Tommi juga ikut, “entah apa maunya, iseng atau emang mau serius, atau mau buat gaduh lagi”, sangkaku terlalu berlebihan padanya. Tapi ah, biarin aja mudah-mudahan bisa ikut termotivasi.

Dan sesuatu mengejutkan terjadi tatkala video yang diputar membahas tentang “Ibu”, tak kusangka kulihat Tommi begitu menghayati isi video itu dan tampak jelas di balik kelopak matanya bercucuran air mata. Aku sangat yakin itu adalah air mata murni dari hati, bukan air mata palsu apalagi buaya.

Berawal dari peristiwa itulah, berawal dari sebuah video pendek renungan, Tommi tersadar atas segala tindak tanduknya selama ini, ia merasa sangat menyesal dengan segala perbuatan yang membuat onar dan meresahkan masyarakat sekitar terkhusus teman- teman sekolah sendiri.

Hingga akhirnya ia sendiri meminta gabung bersamaku di ekskul ROHIS yang juga kebetulan waktu itu diketuai olehku. Semua teman-teman Rohis menyambut gembira Tommi yang mulai tersadar dan adanya kenginan untuk berubah dalam dirinya, terlebih ingin terjun langsung di ekskul kerohanian di sekolah kami.

Hampir semua kegiatan ROHIS, Tommi tak pernah ketinggalan darinya. Mulai dari kajian bulanan, tarbiyah pekanan, terlibat dari kepanitian Tabligh Akbar, bahkan azan di masjid pun kami harus angkat tangan padanya karena selalu kalah cepat.

Yah, Tommi berubah, ia hijrah dari kehidupan masa lalu yang kelam menuju indahnya cahaya hidayah islam. Dia yang dulu sangat kutakuti kini menjadi sahabat yang selalu membersamai. Dia dulunya dibenci teman-teman kelas sendiri kini menjadi orang yang selalu dipuji karena sikapnya yang mulia nan terpuji.

Perjalanan waktu serasa begitu singkat, indahnya masa-masa SMA menjadikan diri ini tak ingin meninggalkan sekolah apalagi di dalamnya awal mula kami menapaki perjalanan hijrah bersama teman-teman ROHIS.

Tapi karena tuntunan zaman, kami harus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, ada cita-cita yang mesti diraih, ada keluarga yang harus dibanggakan dan ada orang tua yang tak kalah penting untuk dibahagiakan.

Masing-masing dari kami menyebar dan kuliah di kampus yang berbeda. Semua berpisah dan masing-masing mendapatkan lingkungan dan teman baru.

Kendati demikian, meski tak bisa jumpa di dunia nyata, komunikasi tetap jalan di dunia maya, saling tanya kabar dan pengalaman bagaimana bagaimana menjalani hidup di kampus baru. Hal ini berlangsung beberapa lama, sampai akhirnya komunikasi itu berhenti.

Hingga tatkala hari reuni angkatan SMA tiba, aku dikagetkan dengan  pemandangan yang betul-betul menyayat hati dan bertanya-tanya ada apa gerangan? Yah, Tommi berubah.

Tommi yang dulu kukenal dengan penampilan “ikhwahnya”, kini kembali dengan penampilan “preman” seperti  awal aku mengenalnya. Tidak ada lagi sapaan “akhi” terdengar dari bibirnya, mushaf kecil yang sering ia bawa di saku bajunya kini sudah tergantikan dengan merk hp mahal keluaran terbaru.

Reaksiku hanya diam dan tidak terlalu menanggapi kala itu, komunikasi dan saling sapa serasa berat, seakan-akan aku dan dia baru saja ketemu. “Kenapa Tommi berubah ya Allah? Apakah ini salahku karena tak pernah lagi menyapa dan menasehatinya, ataukah sebab teman dan pergaulan hingga ia kembali berbalik ke belakang?” Mungkin saja.

Aku hanya bisa berharap dan berdoa kepada  Dzat yang membolak-balikkan hati, “Ya muqallibal quluub, teguhkanlah hati kami dalam menapaki jalanmu yang lurus, dan berilah petunjuk kepada saudara kami agar bisa kembali mengecap nikmatnya Hidayah-Mu”.

Temann

Kisah kedua datang dari seorang siswi adek kelasku di SMANSA, namanya Oliv. Dimulai ketika aku datang ke setiap kelas untuk mensosialisasikan ekskul ROHIS serta membawa formulir bagi siswa yang berminat. Dia adalah salah satu siswi yang sangat antusias untuk bergabung di ekskul ROHIS ini yang kebetulan saat itu masih dinahkodai oleh diriku.

Layaknya seperti siswa yang lainnya, aku biasa saja ketika memberikan formulir pendaftaran padanya.  Setiap hari sabtu, aku menjadwalkan pertemuan kepada semua anggota yang tergabung di ROHIS, tepatnya setelah pulang sekolah. Di pertemuan itu biasanya aku memberikan sedikit motivasi kepada mereka tentang pentingnya ekskul ROHIS di sekolah, termasuk sharing dan bertukar pikiran dengan mereka terkhusus anggota baru.

Ada yang menarik perhatianku setiap kali jadwal pertemuan itu tiba. Yah, dia mulai berubah. Kulihat perubahan itu perlahan-lahan terjadi pada dirinya. Dia yang dulunya berpenampilan biasa biasa saja layaknya kebanyakan siswi yang lain, kini telah berubah. Jilbabnya turun alias memanjang ke bawah.

Awalnya, jilbabnya turun agak standarlah, mungkin sekitaran pinggang kali ya, namun lama kelamaan semakin turun dan turun hingga melewati lututnya, jadilah dia sosok muslimah berpenampilan syar’i secara sempurna.

Entah kenapa aku begitu kagum dengan perubahannya itu. Dia berhijrah, dari penampilan gaul dan jilbab modis terkini  menjadi  penampilan sederhana dengan balutan jilbab syar’i.

Berpenampilan beda di tengah-tengah masyarakat sekolah tak membuatnya malu dan gentar dalam mempertahankan prinsipnya. Sindiran dan ejekan dianggapnya hanya angin lalu. Itu semua berkat teman-teman di ROHIS yang selalu menyemangati dan menguatkan.

Namun teman-teman sekalian, rasa kagum itu berubah menjadi rasa sedih dan prihatin tatkala melihatnya kembali berubah ke dirinya yang dulu. Hal yang tak kusangka-sangka ini terjadi setelah ia lulus SMA dan melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri.

Yah, jilbab yang panjang dan lebar itu sudah tak terlihat pada dirinya, digantikan dengan jilbab gaul yang umumnya dikenakan kawula mudi. Dia yang dulunya kukenal begitu lantang  menyuarakan dakwah saat menjabat sebagai ketua divisi dakwah di ROHIS, kini sudah tak pernah terdengar lagi. Entah kenapa dan apa penyebabnya? Lagi-lagi mungkin saja pengaruh teman dan lingkungan tempat ia tinggal. Mungkin saja.

Sunrise 4021128 960 720

Bukan bermaksud mengurusi hidup orang lain, namun cerita ini hanya untuk menjadi bahan renungan dan pembelajaran bagi  diri pribadi dan teman-temanku yang sedang dalam proses belajar  menapaki liku-liku hijrah, agar kelak tak jatuh pada lubang yang sama.

Kita bisa lihat bagaimana besarnya pengaruh teman. Berkumpulnya kita dengan teman-teman baik dan sholeh menjadikan kita ikut semangat berbuat baik, meskipun kita belum layak dikatakan sholeh. Namun, berkumpulnya kita dengan teman-teman yang buruk menjadikan kita juga perlahan-lahan ikut perangai buruk mereka walaupun pada awalnya kita adalah orang yang tetap berusaha menjadi baik.

Betul sekali apa yang pernah dikatakan baginda Nabi SAW:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Hidayah sangatlah berharga, maka perlu tenaga ekstra untuk menjaganya. Diantara cara menjaga agar hidayah itu tak hilang dari diri ini adalah berteman, bergaul dan berkumpul dengan orang-orang sholeh. Sebab teman sholeh sangatlah mahal, lebih mahal dari dunia dan seisinya. Teman sholeh mengajak ke surga, sebaliknya, teman yang buruk justru akan menarik ke neraka. So, selektiflah dalam memilih teman agar tak sesal di kemudian hari.

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia”
(Al Furqan:27-29)

 

 

 

 

Haikal Muhlis

Mahasiswa aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, aktif di berbagai organisasi kampus dan komunitas pemuda.

One Comment

  1. MasyAllah tulisan yang keren dan memotivasi untuk terus melakukan proses dan progres menuju perbaikan yang lebih baik, InshaAllah 👍👍👍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button