Setelah Sebulan Di Sintesa, Aku Menyesal!

Senin, 20 Maret 2017

Rasanya masih seperti mimpi, aku seakan tidak percaya kalau sudah empat pekan menjalani hidup di sini, di Sintesa. 2016 lalu, bahkan tak pernah terpikir olehku akan menjalani hidup semacam ini.

Seperti ada tangan-tangan berkuasa menggerakkan dan membawaku ke tempat ini, di luar batas kendaliku.

Aku tidak percaya dengan yang namanya kebetulan, semua ada yang mengatur. Dan tangan yang berkuasa itu telah menakdirkanku ke tempat ini, raga dan jiwaku dibuat rela, ikhlas dan bahkan bersemangat meninggalkan semua hal di Tanah Daeng

Seperti Dee dalam bukunya ‘Filosofi Kopi’, aku akan mencoba menghitung waktu secara detil.

Satu bulan, kalikan tiga puluh, kalikan dua puluh empat, kalikan enam puluh, kalikan lagi enam puluh. Maka aku akan mendapatkan angka ini: 2.592.000.

Yaah, dua juta lima ratus sembilan puluh dua ribu!

Sekitar itulah banyaknya milisekon waktu yang telah aku habiskan sejak pertama kali ke tempat ini. Angka itu lebih fantastis lagi kalau aku tarik sampai ke skala nano sekon. Kamu bisa cek sendiri, barangkali aku salah hitung. Kamu tahu, itu bukan angka yang kecil!

Dua juta lima ratus milisekon lebih menjalani hari-hari di Sintesa dengan segala rutinitas dan kebersamaan orang-orangnya, juga semua suasana yang kulihat, kuamati dan kuperhatikan, adalah waktu yang cukup. Aku sudah mengenal betul, setidaknya yang bisa dirasa oleh inderaku.

Dan sekarang aku telah mengambil kesimpulan, aku menyesal bergabung di Sintesa. Iya, aku benar-benar menyesal.

Setidaknya ada beberapa kenyataan yang kulihat dan kurasakan membuatku menyesal;

1. Menyesal Terlambat Tahu Tentang Sintesa

©pixabay.com

Padahal sekarang sudah angkatan ke-lima. Harusnya aku sudah tahu dan mendaftar dari tahun-tahun kemarin, bahkan bila perlu aku daftar di angkatan pertama. Aku menyesal tidak pernah cari tahu dari dulu.

Meski aku percaya bahwa takdirlah yang membawaku harus menjadi bagian dari Sintesa pada angkatan ke-lima ini, tetap saja aku menyesal. Mengapa baru sekarang?!

2. Menyesal Baru Sekarang Menemukan Lingkungan Seperti Ini

©pixabay.com

Aku menyesal, mengapa baru sekarang aku menemukan lingkungan yang mendekatkanku pada Tuhan. Usia mudaku telah hampir lewat dan aku telah melewatkan pula kesempatan menjadi salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.

yaa Allah, aku telah melewatkan kesempatan itu. Aku menyesal, mengapa baru sekarang aku ke tempat ini..

3. Menyesal Telah Menghabiskan Banyak Usia Dalam Kesia-siaan

©pixabay.com

Aku menyesal telah menghabiskan usia bertahun-tahun dalam kesia-siaan, bahkan dosa. Lebih banyak mengabaikan perintah Tuhan dan sering kali melanggar aturan-Nya. Andai saja aku mengenal dan bergabung dengan Sintesa sedari dulu..

Ah, maafkan aku Tuhan yang berandai-andai, aku hanya menyesali masa laluku. Kuatkan dan jaga terus niatku Tuhan, agar aku senantiasa memperbaiki diri dan lebih dekat dengan-Mu.

4. Aku Menyesal Baru Sekarang Bisa Berkumpul dengan Orang-orang Sholeh

©pixabay.com

Lagi, aku menyesal. Mengapa baru sekarang bisa bergaul dan berkumpul dengan orang-orang baik yang senantiasa mengingatkan pada kebaikan dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Meskipun rekan-rekan di Sintesa dari berbagai daerah yang berbeda, tapi kami saling menghargai. Membantu dengan ikhlas, mendukung satu sama lain.

5. Menyesal Baru Bisa Mendalami Minat dan Hobi

©pixabay.com

Dunia online, website, blogging dan sejenisnya adalah hal yang sudah tak bisa aku tinggalkan sejak mengenalnya lima tahun lalu, tahun 2012. Hampir 3/4 waktuku dalam sehari kuhabiskan untuk itu tanpa menghasilkan apa-apa, menjalaninya seperti hanya sebuah kesia-siaan.

Namu sekarang aku telah menemukan tempatku, namun tetap saja aku menyesal karena terlambat menemukannya.

6. Aku Menyesal Baru di Sintesa Bisa Mempelajari Agama dengan Serius dan Damai

©pixabay.com

Di Sintesa, akhirnya aku bisa lebih banyak mempelajari agama yang mulia nan sempurna ini, Islam. bertahun-tahun usia habis dengan mengabaikannya, tanpa pernah mempelajarinya kecuali amat sangat sedikit, kesibukan urusan dunia begitu melalaikan, membuatku lupa. Sesuatu yag harusnya wajib hukumnya untuk aku pelajari, di Sintesa urusan dunia dan akhirat diseimbangkan, ini nikmat terbesar yang aku dapatkan di sini. Aku benar-benar bersyukur.

Di sini, meski tertinggal jauh dengan teman-teman dalam hal pemahaman agama, aku berusaha sebisa mungkin mengikuti mereka. Kesulitanku menghafal ayat-ayat suci mungkin karena jiwaku yang penuh ‘polusi’, tapi rekan-rekan dan guru membantuku dengan sangat sabar dan bertahap. Tidak memaksakan kemampuanku.

7. Aku Benar-benar menyesal, Baru Sekarang,  Selama di Sintesa Aku Peduli dengan Hidupku

©pixabay.com

Hidup di Sintesa benar-benar disiplin dan teratur, semua diberlakukan untuk kebaikan diri dan kesehatan, sejauh yang kuamati tidak ada satupun aturan yang bertentangan dengan logika, pikiran dan semua yang teori kesehatan yang pernah aku baca dan pelajari.

Aku mulai peduli dengan kesehatan tubuhku. Hidup disiplin dan terjadwal adalah yang paling aku sukai di Sintesa, hal yang selama ini tidak pernah aku terapkan. Dulunya, sebelum ke sini, aku sering begadang hingga lewat malam, bahkan hingga pagi lalu tertidur hingga jelang duhur, itupun dengan kegiatan yang tidak jelas dan sia-sia.  Benar-benar kacau nan suram. Tapi sekarang, semua terjadwal rapi. Setiap waktu yang terlewati rasanya tidak ada yang sia-sia, bermanfaat dan tidak melupakan Tuhan.

Aku menyesal mengapa bertahun-tahun tidak menjalani hari-hari seperti di Sintesa yang disiplin ini.

8. Penyesalan Terakhirku, Pernah Berpikir Bahwa Dunia Hanya Penuh dengan Orang-orang Egois

©pixabay.com

Yah, aku pernah berpikir bahwa dunia sekarang hanya dipenuhi oleh orang-orang yang mementingkan diri sendiri, orang-orang yang hanya berlomba-lomba mengejar materi dan kesenangan dunia.

Tapi di sini, aku menemukan sosok –kalau boleh aku menyebutnya– ‘berjiwa malaikat’. Memberi dan mengasihi tanpa meminta balas.

Hampir semua keperluan dan fasilitas di Sintesa disediakan gratis. Benar-benar gratis. Ah, serasa di surga.

Aku tak habis pikir, masih ada orang seperti itu. Aku pikir sudah punah di zaman yang hampir serba materi sekarang ini. Orang-orang yang mau menghabiskan tenaga waktu bahkan materinya yang tak sedikit karena peduli dengan generasi muda. Peduli dengan keadaan ummat.

Usianya bahkan masih muda. Mungkin sebagian besar orang berpikir lebih baik membahagiakan diri sendiri saja.. bersenang-senang, jalan-jalan ke luar negeri mungkin.. daripada mengurusi orang antah berantah, keluarga saja bukan.

Tapi itu tidak ada di pikirannya, alangkah mulianya pendiri Sintesa dan keluarganya ini. Semoga Tuhan senantiasa merahmati mereka.

Terbuat dari apa hati yang mereka punya sebenarnya.. Ya Allah, mereka begitu baik.

Aku tidak mungkin bisa lupa ketika aku dan dua orang santri lainnya sakit dan harus di rawat di rumah sakit dan puskesmas beberapa hari, beliau begitu mengkhawatirkan dan terus memperhatikan keadaan kami, bahkan setelah keluar dari rumah sakit dan sudah baikan. Kondisi kesehatan kami terus diperhatikan. Ini tidak kurangnya seperti perhatiannya keluarga sendiri.

Ya Tuhan.. bagaimana caraku membalas kebaikan mereka?

***

Dan yang paling terakhir, aku menyesal belum tahu cara berterima kasih kepada pihak Sintesa yang telah menerimaku.

Kategori Cerita

Tinggalkan komentar