Setelah 2 Mimpiku Gagal

“Tulislah mimpi-mimpimu secara nyata di atas kertas, jangan tulis dalam ingatan saja karena pasti kamu akan lupa. Kelak mimpi itu akan menjadi hanya sekadar coretan, karena satu persatu telah engkau wujudkan.”

Yah, kata-kata itulah yang merubah hidupku beberapa tahun silam, lebih tepatnya ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Siswa Baru Di Sekolah Favorit

Awal kisah dimulai ketika aku resmi menjadi salah satu siswa di sekolah favorit yang ada di kota Sinjai, SMANSA. Perlu kalian tahu, masuk di sekolah ini juga penuh kisah dramatis dan perjuangan. Bagaimana tidak, keinginanku untuk melanjutkan sekolah di sekolah favorit itu tidak sejalan dengan keinginan keluarga yang hanya menginginkan aku melanjutkan sekolah di sebuah madrasah swasta dekat rumah.

“Bagaimana bisa sukses kalau hanya terkurung di kampung terus? Keluarlah agar kamu  tahu bagaimana perjuangan menjalani hidup dengan berbekal pengalaman! Cukuplah diri ini yang merasakan pahitnya hidup di negeri orang karena minimnya pengalaman.”

Begitu kira-kira nasihat inspirasi dari sang kakak yang kala itu masih berstatus mahasiswa di perguruan tinggi terbaik Kota Daeng, Unhas. Beliulah orang pertama yang menyemangati agar aku melanjutkan sekolah di  SMA favorit Sinjai.

Awal masuk sekolah mungkin hanya aku seorang yang tidak memiliki teman ngobrol, terkhusus di suasana Masa Orientasi Siswa Baru (MOS). Selain karena aku orang yang pemalu, juga karena tidak ada teman sekampung melanjutkan sekolah di tempat yang sama. Di saat siswa lain asyik bercanda, tertawa riang sesama teman sekolah satu SMP-nya dulu, aku sendiri malah asyik menyendiri tanpa teman yang bisa diajak bicara santai.

Wajarlah karena memang SMP tempat aku sekolah dulu jaraknya sangat jauh, terpencil dari kota sampai tak ada yang kenal. Tidak sedikit orang yang bengong dan terheran-heran ketika bertanya aku alumni dari SMP mana.

“Dari SMP manaki?”

Adalah pertanyaan yang sering kali terdengar di kalangan siswa baru tatkala bertemu dengan dengan kenalan baru. Ketika pertanyaan itu ditujukan kepadaku, maka dengan mantap kujawab:

“Iye, dari MTs Darussalam Patalassang.”

Orang yang bertanya pasti mengerutkan dahi dan kembali bertanya,

“dimana itu sekolahta, barusan dengar?”

Ditambah saat berbicara, kata-kata yang keluar dari bibir ini pasti akan menjadi bahan tertawaan oleh teman-teman yang mendengarnya. Yah, itu karena logat bicaraku yang agak berbeda dari yang lain, terdengar aneh dan sedikit lucu.

Wajar, karena aku anak baru mencicipi kehidupan kota saat itu. Datang dari kampung pedalaman dengan bahasa yang diistilahkan teman-teman kampung “Ugi Tedde”(bahasa Bugis garis keras), bahasa yang telah mendarah daging dan merupakan bahasa sehari-hari di kampung.

Beda cerita kalau di kampung sendiri, berbahasa Indonesia saat komunikasi  justru mendapat ledekan dan cemoohan dari teman-teman.

“Tidak usah sok-sok berbahasa Indonesia deh, kamu itu Bugis” kata mereka.

Bahkan ketika mengangkat tangan dan mencoba menjawab pertanyaan dari guru di kelas, bukan kalimat apresiasi dan tepuk tangan meriah yang aku dapatkan, tapi sorak tawa dari teman-teman tatkala mendengar logat bahasaku yang begitu lucu menurut versi mereka.

Dari kejadian itu aku down, putus semangat, dan berusaha menghindari komunikasi dengan siapa saja kecuali benar-benar penting.

Hal yang paling membuatku semakin minder dan tidak percaya diri adalah ketika mengetahui rata-rata teman kelasku adalah siswa berprestasi sejak SMP, mulai dari juara kelas sampai juara di berbagai macam ajang lomba tingkat kabupaten, provinsi hingga tingkat nasional. Pupuslah harapanku untuk menjadi salah satu orang terbaik di sekolah ini.

Sebuah Video Pendek

Hingga suatu hari, kakak yang kuliah di Makassar balik ke kampung memanfaatkan waktu libur yang diberikan kampus. Sudah menjadi kebiasaanku mengotak-atik laptop miliknya ketika ia ada di rumah, tidak lain hanya untuk mengecek film terbaru yang pernah ia download. Maklumlah aku belum punya laptop waktu itu, hehe.

Saat sedang asyik mengecek film, sekilas mataku tertuju pada satu video pendek dengan judul yang cukup menarik. Penasaran memaksa jari ini menekan tombol enter untuk membukanya.

“Tulislah Mimpi-mimpimu!”

Ya, itulah judul video pendek tersebut. Detik demi detik kutonton sampai akhir hingga akhirnya terjadi sebuah ledakan.

Booomh…

Sebuah ledakan yang mengawali perubahan dalam hidup ini. Ledakan untuk melejitkan potensi, ledakan berupa semangat dalam menggapai impian, ledakan berupa motivasi untuk menunjukkan kepada dunia bahwa aku juga bisa.

Kubulatkan tekad untuk menulis mimpi di atas selembar kertas. Satu persatu kugoreskan mimpi itu dengan penuh harap bisa tercapai.

Dan apa yang terjadi kemudian?

Syukur tak terkira kupanjatkan kepada yang Maha Pemberi karunia. Hampir seluruh mimpi yang kutuliskan tercapai dengan izin Allah Swt.

Kutuliskan mimpi  “Aku ingin tampil pede dan lancar berbicara di depan umum”.

Alhamdulillah satu bulan kemudian, aku sudah tampil sebagai pemateri dalam mempresentasikan tugas yang diberikan oleh guru di kelas. Aku yang dulunya sangat pemalu dan malu-maluin kini sudah tampil pede dan tak peduli cemoohan dari bawah.

Mungkin ada yang penasaran dan bertanya-tanya, apa yang aku lakukan kurung waktu satu bulan itu, kenapa tiba-tiba bisa tampil percaya diri begitu?

Jadi pas libur semester ganjil, aku memanfaatkan waktu itu untuk mengikuti sebuah kegiatan Pelatihan Kader Taruna Melati 1(PKTM 1) yang diadakan oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sinjai. Dari sinilah aku bersama teman-teman peserta lain digembleng dan diajarkan bagaimana menjadi pemimpin, bagaimana tampil pede berbicara di depan umum, dan berbagai macam ilmu bermanfaat lainnya.

Seiring berjalannya waktu, bukan sekadar tampil bicara di hadapan teman-teman dalam kelas, tapi juga di hadapan guru-guru bahkan kepada sekolah ketika ada acara-acara besar di luar kelas, alhamdulillah.

Kutuliskan mimpi Aku ingin menjadi siswa berprestasi di kelas”.

Alhamdulillah sejak kelas satu hingga kelas tiga (semester 1 sampai semesteri 6) Allah menakdirkan diriku meraih peringkat 1 berturut turut.

Disini aku mulai menyimpulkan bahwasannya kesuksesan tidak ditentukan faktor kepintaran semata, tapi juga perlu ada usaha keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya. Sebagaimana pisau, setajam-tajamnya pisau kalau tak pernah diasah, akan tumpul juga. Tapi, setumpul-tumpulnya pisau kalo sering diasah akan menjadi tajam juga. (Eh, nyambung tidak ya?)

Kutuliskan mimpi “Aku ingin namaku disebut dan dipanggil maju mempersembahkan piala karena berhasil meraih juara di suatu ajang perlombaan”.

Alhamdulillah pas menduduki bangku kelas dua, aku terpilih sebagai peserta Lomba Olimpiade Matematika tingkat kabupaten dan berhasil meraih juara 2.

Naik kelas tiga kembali ditunjuk untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat tingkat kabupaten, alhamdulillah kali ini berhasil menorehkan emas sekaligus lolos mewakili Sinjai bertanding ke tingkat provinsi.

Impianku tercapai, namaku disebut dan dipanggil maju di hadapan seluruh peserta suasana upacara hari senin untuk menyerahkan piala ke sekolah sekaligus menerima piagam pengharagaan secara simbolis.

Kutuliskan mimpi, “Aku ingin semua orang di sekolah mengakui diriku”.

Kutuliskan mimpi ini karena awalnya aku adalah orang yang sering diledekin, ditertawakan, diejek, dan tidak pernah dihargai tatkala berbicara.

Alhamdulillah satu tahun setelah kutuliskan mimpi ini, tepatnya ketika duduk dibangku kelas 2 aku terpilih sebagai ketua OSIS. Aku sedikit heran mengapa diri ini yang terpilih, apalagi ketika mengetahui hasil suara yang kuperoleh memiliki selisih sangat jauh dari kandidat satunya. Semua orang kini mengakui bahwa inilah aku sekarang, pandangan mereka tentang diriku yang dulu telah berubah.

Sejak menjabat sebagai ketua OSIS, tampil di muka umum sudah menjadi hal biasa bagiku termasuk menjadi pemimpin upacara di hari senin. Selain akrab dengan siswa, guru-guru pun tak kalah akrabnya denganku, bahkan kepala sekolah. Kepala sekolah yang awal kali aku melihatnya adalah sosok menakutkan, kini menjadi layaknya seorang teman saking seringnya ketemu dan komunikasi.

Dua Mimpi Besar

Diantara banyaknya mimpi yang berhasil tercapai, ternyata ada juga mimpi yang tidak berjalan mulus sesuai rencana. Tercapainya mimpi mengajarkan sekaligus menguji apakah diri ini termasuk hamba yang bersyukur atau tidak. Dan gagalnya impian menuntun diri untuk banyak bersabar terhadap takdir yang telah Dia tetapkan.

Dari sekian banyak mimpi yang aku wujudkan, ada dua mimpi besar yang harus berhenti di tengah jalan. Dua mimpi yang telah kuperjuangkan dengan segala usaha dan doa penuh harap agar Tuhan berkenan mengabulkan.

Namun takdir berkata lain, dua mimpi itu harus tercoret dari daftar mimpi-mimpiku, aku gagal mewujudkannya. Sedih, kecewa, putus asa, semua teraduk jadi satu dalam diri. Mimpi yang aku maksud adalah:

“Aku ingin melanjutkan kuliah di UGM”,

dan…

“Aku ingin mahir berbahasa Inggris dengan bergabung di Kampung Inggris Pare”.

Di tengah-tengah keterpurukan, ada saja orang-orang baik yang Allah utus untuk menguatkan diri ini. Murabbi sekaligus guru tarbiyah sekolah datang dengan sentuhan kalimatnya yang menyentuh hati, beliau mengingatkan diri ini:

“Ketahuilah akhi, skenario Allah jauh lebih indah dari skenario makhluk-Nya. Kadang seorang hamba bermimpi, bercita-cita, atau berangan-angan untuk mencapai sesuatu, namun takdir berkata lain, Allah membelokkannya ke tempat lain.

Sungguh Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambanya. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.”

 “….boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS.Al-Baqarah : 216)

Nasihat dari sang Murabbi begitu membekas, untuk kedua kalinya diri ini bangkit dari keterpurukan. Yah, kata-kata beliau tertancap kuat dalam jiwa, bahwasannya skenario Allah jauh lebih indah. Allah sudah menyiapkan sesuatu yang lebih indah kepada orang-orang yang yakin akan janji-Nya.

Dan memang betul, rasa kecewa, putus asa, sakit hati yang kurasakan itu berganti dengan rasa syukur tak terkira kepada Sang Sutradara kehidupan. Mimpiku yang gagal, yang telah kuperjuangkan dengan segala upaya itu, Allah ganti dengan sesuatu yang spesial.

Ganti Yang Indah

Gagal kuliah di kampus UGM bukan berarti berhenti mencoba daftar di kampus lain atau sampai tak mau lanjut kuliah. UGM bukan satu-satunya kampus di Indonesia, kampus bertebaran dimana-mana. Sangat disayangkan jikalau diri ini hanya fokus dan berharap pada satu kampus. Lagian kampus tempat kuliah bukanlah faktor penentu sukses atau tidaknya seseorang, tapi faktor dalam diri pribadi masing-masing.

Alhamdulillah, Allah menuntunku untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi Islam daerah Makassar. Itulah STIBA Makassar yang setelah melalui proses panjang, akhirnya aku bisa mengecap gelar mahasiswa di kampus tersebut. Kampus yang ketika engkau masuk di dalamnya engkau akan merasakan hawa ketenangan, ketenteraman jiwa dan perasaan adem.

Kampus yang ketika engkau bertemu dengan mahasiswa-mahasiswanya, maka hadiah berupa senyuman manis, salam dan sapa yang begitu ramah akan engkau dapati dari mereka. Kampus yang pada akhirnya banyak merubah hidupku. Kampus yang kujadikan rumah kedua setelah rumah keluarga di kampung. Saking nyamannya, tak cukup tiga hari di kampung hati ini sudah merasakan rindu untuk kembali.

Di kampus ini pula, mimpi keduaku -ingin mahir bahasa Inggris- yang belum sempat terwujudkan, tergantikan dengan sebuah bahasa yang merupakan bahasa buku panduan setiap manusia yang mengaku muslim. Itulah bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an, bahasa Hadits dan bahasa yang digunakan hampir di seluruh jenis ibadah ummat Islam.

Dengan bahasa Arab, akhirnya aku terbantu khusyu di tiap shalat dan doa-doaku. Dengan bahasa Arab, akhirnya aku dimudahkan dalam menghafal dan memahami Al-Qur’an serta As-Sunnah. Dengan bahasa Arab, akhirnya aku bisa membaca dan memahami kitab-kitab karya ulama yang semuanya berbahasa Arab.

Bagaimana pendapat kamu ketika melihat seseorang yang meminta sesuatu tapi ia sendiri tidak tahu apa yang ia minta? Mungkin ada yang mengatakan sinting, gila, dan tak waras.

Bagaimana lagi ketika ada orang yang shalat atau berdoa, tapi tak paham apa yang ia minta dalam shalat dan doanya? Maka inilah salah satu pentingnya paham bahasa Arab, agar engkau bisa memahami apa yang engkau baca di setiap shalat dan doamu, sekaligus membantu engkau khusyu dalam beribadah kepada-Nya.

Pesanku Untukmu…

Jadi teman-teman sekalian, di akhir cerita ini aku hanya ingin mengatakan:

Tulislah mimpi-mimpimu di atas kertas! Jangan engkau tuliskan di kepala saja, karena bisa saja kelak kamu akan lupa.

Tulislah mimpi-mimpimu! Karena dengan menulisnya engkau akan lebih bersemangat untuk segera mewujudkannya.

Namun…

Ketika mimpi yang engkau tuliskan itu gagal dan tak bisa engkau wujudkan, jangan bersedih dan jangan putus asa! Yakin dan percayalah bahwasanya rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang engkau rencanakan.

“Aku senang tatkala doaku dikabulkan karena itu adalah keinginanku, namun aku jauh lebih senang ketika doaku tak dikabulkan karena itu adalah keinginan dan pilihan Allah. Dan tentu pilihan Allah jauh lebih baik dari pilihan hamba-Nya.”

Al-Faqir, Haikal Muhlis

Sinjai, 21 November 2020

Haikal Muhlis

Mahasiswa aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, aktif di berbagai organisasi kampus dan komunitas pemuda.

2 Comments

  1. Assalamualaikum warohmatuah wabarokatuh
    Masya Allah,
    Sangat menginspirasi kak,
    salam hangat dari Kalimantan Utara sosok luar biasa. Semoga selalu dalam bimbingan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button