Gagal Bermimpi

“Tulislah mimpimu, karena ia akan pergi ditelan waktu jika hanya kamu biarkan terbayang bayang di kepalamu… alias nanti kamu lupa, hehe”

Yah, kata-kata itulah yang mengubah hidupku beberapa tahun silam, lebih tepatnya ketika aku duduk di bangku SMA.

Awal kisah dimulai kekita aku resmi menjadi salah satu siswa di sekolah favorit yang ada di kota Sinjai, SMANSA. Asal kalian tau aja, masuk di sekolah ini juga penuh kisah dramatis dan perjuangan. Bagaimana tidak, keluarga di rumah kurang yang mendukung, hanya kakakku yang kuliah di Makassar, yang begitu mensupport diriku untuk lanjut di sekolah itu.

“Bagaimana bisa sukses, kalo hanya terkurung di kampung terus, keluarlah agar kau bisa tau bagaimana indahnya menjalani hidup dengan bekal pengalaman! Cukuplah diriku ini yang merasakan pahitnya hidup di negeri orang tanpa bekal pengalaman”. Begitulah kira-kira inspirasi dari kakakku yang masih terngiang ngiang di kepala sampai hari ini.

Awal masuk sekolah, mungkin hanya aku seorang yang tak memiliki teman bicara, apalagi di hari Masa Orientasi Siswa Baru, ketika siswa yang lain asyik ngbrol dengan teman sekolah satu SMPnya dulu aku malah asyik sendiri menyendiri tanpa teman yang bisa diajak bicara santai.

Wajarlah karena memang sekolahku dulu sangat jauh, terpencil dari kota ini sampai tak ada yang kenal. ketika ada yang tanya, “dari sekolah mana?” dan kujawab “di MTs Darussalam Patalassang”, yang bertanya pasti terheran heran dan kembali bertanya, “dimana itu sekolahta?”

Terlebih lagi ketika aku berbicara, pasti aku akan menjadi bahan tertawaan orang yang mendengar apa yang keluar dari bibirku. Yah, itu karena logat bicaraku yang agak aneh kedengaran, wajar karena aku dari kampung pedalaman yang bahasanya diistilahkan “Ugi Tedde” bahasa Bugis yang sudah mendarah daging dan merupakan bahasa sehari-hariku di kampung.

Jika di kampung aku sering diledek teman sendiri kalo berbahasa Indonesia, “nggak usah sok-sok berbahasa Indonesia deh, kamu itu Bugis” kata mereka, nah kalo di kota malah ditertawakan jika yang terucap adalah bahasa Bugis. Aku sudah berusaha untuk berbahasa Indonesia yang baik, namun yang keluar dari mulut ini hanya bahasa aneh, berupa logat yang kedengaran sangat lucu menurut mereka.

Bahkan ketika aku mengangkat tangan dan mencoba menjawab pertanyaan dari guru di kelas, bukan kalimat apresiasi dan tepuk tangan yang kudapatkan dari teman-teman, tapi malah sorak tawa dari mereka tatkala mendengar logat bahasaku yang begitu lucu menurut versi mereka. Dari kejadian itulah aku down, putus semangat, berusaha untuk menghindari komunikasi dengan teman teman kecuali benar-benar penting.

Hal yang paling membuatku semakin tidak percaya diri adalah ketika mengetahui bahwa di kelasku ternyata banyak sekali siswa yang berprestasi sejak mereka masih SMP, mulai dari juara kelas sampai juara di berbagai macam ajang lomba. Pupuslah harapanku untuk menjadi salah satu siswa terbaik di sekolah ini.

Hingga suatu hari, kakakku  pulang dari Makassar untuk memanfaatkan waktu libur yang diberikan kampus. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mengotak-atik laptopnya ketika ia ada di rumah, terlebih mengecek film terbaru yang pernah ia download. Maklumlah aku belum punya laptop waktu itu, hehe.

Ketika sedang mengecek film-film yang ia miliki, mataku tertuju pada satu video pendek yang sangat menarik perhatianku dengan judul “Tulislah Mimpi-mimpimu”.

Ketika kubuka, Booommmh… Inilah awal perubahan dalam hidupku, aku termotivasi, semangat untuk berubah itu datang menggebu-gebu. Berawal dari sentuhan sebuah video pendek yang sangat menginspirasi, yang intinya adalah “Tulislah Mimpi-mimpimu”.

Maka kubulatkan tekad untuk menulis mimpiku di atas selembar kertas. Satu persatu kugoreskan mimpi itu dengan penuh harap bisa tercapai. Dan apa yang terjadi kemudian, maasyaaAllah, subhanallah, walhamdulillah, kalimat inilah yang mungkin pantas untuk senantias aku ulang-ulang. Hampir semua mimpi yang aku tuliskan, alhamdulillah tercapai dengan izin Allah Swt.

Ketika kutuliskan mimpi “Aku ingin tampil pede dan lancar berbicara di depan umum”, alhamdulillah satu bulan setelahnya aku sudah tampil menjadi pemateri mempresentasikan materi yang ditugaskan oleh guru dikelas. Aku yang dulunya sangat pemalu dan malu maluin kini sudah tampil pede dan tak peduli cemoohan dari bawah.

Mungkin ada yang bertanya tanya, apa yang aku lakukan di sela waktu satu bulan itu, kok tiba-tiba bisa tampil percaya diri gitu? jadi pas libur semester ganjil, aku memanfaatkan waktu libur untuk mengikuti sebuah kegiatan yang bernama Pelatihan Kader Taruna Melati 1 (PKTM 1) yang diadakan oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Dari pelatihan itulah aku digembleng selama satu pekan bersama teman-teman peserta lain tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin, bagaimana tampil pede berbicara di depan umum, dan berbagai macam ilmu bermanfaat lainnya. Dan seiring berjalannya waktu, bukan hanya berbicara di hadapan teman-teman di kelas, tapi di hadapan guru-guru bahkan kepada sekolah, Alhamdulillah.

Ketika kutuliskan “Aku ingin meraih juara di kelas (peringkat satu)”, Alhamdulillah, sejak kelas satu sampai kelas 3 (semester 1 sampa semesteri 6) Allah menganugerahkan kepadaku peringkat 1 berturut-turut.

Di sini aku mau mengatakan bahwasannya kesuksesan itu tidak hanya ditentukan faktor kepintaran semata, tapi juga perlu ada usaha keras dan sungguh-sungguh untuk mencapainya. Sebagaimana pisau, setajam tajamnya pisau kalo tak pernah diasah, akan tumpul juga. Tapi, setumpul tumpulnya pisau kalo sering diasah akan menjadi tajam jua. Eh, nyambung nggak ya?

Ketika kutuliskan “Aku ingin namaku disebut dan dipanggil maju mempersembahkan piala untuk sekolah karena berhasil meraih juara di suatu ajang perlombaan”. Alhamdulillah pas duduk di bangku kelas dua  aku dipilih sebagai peserta lomba olimpiade matematika tingkat kabupaten dan berhasil meraih juara 2. Naik kelas tiga kembali ditunjuk untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat tingkat kabupaten, dan alhamdulillah kali ini berhasil menorehkan emas alias juara 1.

Impianku tercapai, namaku disebut dan dipanggil maju di hadapan teman-teman dan para guru di suasana upacara bendera hari senin untuk menyerahkan piala ke sekolah sekaligus menerima piagam pengharagaanku secara simbolis.

Ketika kutuliskan “Aku ingin semua orang di sekolah mengakui diriku”. Kutuliskan mimpi ini karena awalnya aku adalah orang yang sering diledekin, ditertawakan, diejek, dan tidak pernah dihargai tatkala berbicara.

Alhamdulillah satu tahun setelah aku menulis mimpi ini tepatnya ketika duduk di bangku kelas 2 aku terpilih menjadi ketua OSIS. Akupun heran mengapa diri ini yang terpilih, terlebih ketika aku melihat hasil perolehan suara yang kuperoleh sangat jauh dari kandidat yang satunya, yah 10 : 1, beda jauh.

Semua orang mengakui bahwa inilah aku sekarang, sudah berbeda dengan pandangan mereka yang dulu. Dan sejak menjabat sebagai ketua OSIS inilah, aku lebih sering lagi aktif tampil di depan umum, termasuk menjadi pemimpin upacara pada hari senin.

Haikal Muhlis
Momen pelukan dengan kepala sekolah saat upacara terakhir

Selain akrab dengan siswa, aku juga sudah begitu akrab dengan guru-guru, bahkan kepala sekolah. Kepala sekolah yang dulunya sangat takuti dan segani itu, kini menjadi layaknya teman biasa tatkala diriku telah menjadi ketua OSIS saking seringnya ketemu dan komunikasi.

Namun, teman-teman sekalian…

Di antara banyaknya mimpi yang berhasil tercapai, ada dua mimpi besarku yang harus berhenti di tengah jalan. Dua mimpi itu kuperjuangkan dengan segala usaha dan doa penuh harap kepada Tuhan agar dikabulkan.

Namun takdir berkata lain, dua mimpi itu harus tercoret dari daftar mimpi-mimpiku, aku gagal mewujudkannya. Sedih, kecewa, putus asa, semuanya teraduk- aduk dalam jiwaku. Mimpi itu adalah “aku ingin melanjutkan kuliah di UGM” dan “aku ingin mahir berbahasa Inggris”.

Di tengah-tengah keterpurukan itu, ada-ada saja orang baik yang Allah utus untuk menguatkan hati ini. Murabbi sekaligus guruku di tarbiyah sekolah datang dengan sentuhan kalimatnya yang menyentuh hati, beliau mengingatkan diri ini.

“Ketahuilah akhi, skenario Allah jauh lebih indah daripada skenario makhluk-Nya, kadang seorang hamba bermimpi, bercita-cita, berangan-angan untuk mencapai sesuatu, tapi takdir berkata lain, Allah membelokkannya ke tempat lain. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambanya. Sungguh Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.”

“….boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS.Al_Baqarah: 216)

Nasehat dari sang Murabbi begitu membekas, untuk kedua kalinya diri ini bangkit dari keterpurukan. Yah, kata-kata beliau kupegang dengan sangat erat, bahwasannya skenario Allah jauh lebih indah. Allah pasti menyiapkan hal yang lebih baik untuk hamba-hambanya yang beriman.

Dan memang betul, rasa kecewa, putus asa, sakit hati yang kurasakan itu berganti dengan ucap syukur tak terhingga kepada sang sutradara kehidupan. Mimpiku yang gagal, yang telah kuperjuangkan dengan segala upaya itu Allah ganti dengan sesuatu yang spesial.

Gagal kuliah di kampus UGM bukan berarti berhenti mencoba daftar di kampus lain atau sampai tak mau lanjut kuliah. UGM bukan satu-satunya kampus di Indonesia, kampus bertebaran dimana-mana.

Sangat disayangkan kalo dirimu hanya fokus dan berharap pada satu kampus. Alhamdulillah, Allah menuntunku untuk daftar di sebuah kampus islam di daerah Makassar.

Itulah kampus STIBA Makassar yang setelah melalui proses yang panjang, akhirnya aku bisa mengecap gelar Mahasiswa di kampus itu.

Kampus stiba makassar
Kampus STIBA Makassar

Kampus yang ketika engkau masuk di dalamnya engkau akan merasakan hawa ketenangan, ketenteraman dan jiwa yang adem. Kampus yang ketika engkau bertemu dengan mahasiswa-mahasiswanya maka engkau akan dapatkan hadiah berupa senyuman manis, salam dan sapa yang begitu ramah dari mereka.

Kampus yang pada akhirnya banyak merubah hidupku. Kampus yang kujadikan rumah kedua setelah rumah keluarga di kampung. Saking nyamannya, sampai-sampai ketika pulang kampung, tak cukup tiga hari hati ini sudah rindu untuk kembali.

Mimpi kedua yang belum bisa terwujudkan namun Allah ganti yang lebih baik adalah mahir berbahasa inggris dan tergantikan dengan sebuah bahasa yang merupakan bahasa buku panduan setiap manusia yang mengaku muslim.

Itulah bahasa arab, bahasa Al-Qur’an, bahasa Hadits dan bahasa dengan perbendaharaan kata terbanyak di dunia. Dengan bahasa arab aku bisa khusyu dalam shalat dan berdoa, dengan bahasa arab aku bisa lebih mudah menghafal dan memahami Al-Qur’an. Dengan bahasa arab akhirnya aku bisa membaca dan memahami kitab-kitab karya  para ulama yang semuanya berbahasa arab dan gundul.

Bagaimana pendapat teman-teman ketika melihat ada orang yang meminta sesuatu tapi ia sendiri tak tahu apa yang ia minta? Mungkin ada yang mengatakan sinting, gila, dan sudah tak waras. Maka bagaimana lagi ketika ada orang yang shalat atau berdoa, tapi tak paham apa yang ia minta dalam shalat dan doanya? Maka inilah salah satu pentingnya paham bahasa arab, agar engkau bisa khusyu dalam sholat-sholatmu.

Jadi teman-teman sekalian, pesanku untuk kalian.

Tulislah mimpi-mimpimu di atas kertas! jangan kau tuliskan di kepala saja, karena bisa saja kelak kamu akan lupa dan hilang. Tulislah mimpi-mimpimu secara nyata di atas kertas! Karena dengan menulisnya engkau akan lebih bersemangat untuk segera mewujudkannya.

Namun…

Ketika mimpi yang engkau tuliskan itu gagal dan tak bisa engkau wujudkan, jangan bersedih, jangan putus asa! Yakin dan percayalah bahwasanya rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang engkau rencanakan.

“Aku senang tatkala doaku dikabulkan karena itu adalah keinginanku, namun aku jauh lebih senang ketika doaku tak dikabulkan karena itu adalah keinginan dan pilihan Allah. Dan tentu pilihan Allah jauh lebih baik dari pilihan hamba-Nya.”

Haikal Muhlis

Mahasiswa aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, aktif di berbagai organisasi kampus dan komunitas pemuda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button